7 Hal Yang Sering Ditanyakan Investor Pada Founder Startup

Ilustrasi startup. Foto: InternetIlustrasi startup. Foto: Internet

Jakarta – Saat ini, banyak investor tertarik dengan startup yang berada di tahap early stage. Data Cento VC memperlihatkan pendanaan tahap awal di pertengahan 2019 cukup signifikan dibandingkan 2016-2018 yang relatif datar pergerakannya.

Adapun early stage yaitu kondisi di mana sebuah startup sudah mempunyai produk final, sudah ada pasarnya, dan menghasilkan GMV (gross merchandise value) atau transaksi dan ingin melaksanakan ekspansi.

Pegiat startup sekaligus angel investor Victo Glend menyebutkan, dirinya sering berdiskusi dengan beberapa rekan sesama investor. Alasan investor tertarik mendanai startup early stage hampir sama, yaitu sebab deal per startup yang relatif kecil atau di bawah USD 500 ribu dengan equity yang tinggi.

“Saya sering bertemu dengan beberapa startup yang sedang mencari pendanaan tahap awal. Namun ketika berdiskusi dan menggali lebih dalam wacana bisnis mereka, seringkali sebuah startup terlalu menjual mimpi dibandingkan produk,” kata Victo.

Dari pengalamannya tersebut, Victo merangkum 7 hal yang sanggup menjadi kesalahan fatal dilakukan founder startup ketika mencari pendanaan. Berikut ini poin-poinnya.

7 Hal yang Sering Ditanyakan Investor pada Founder Startup Foto: Oli Scarff/Getty Images



1. Keunikan inspirasi bisnis?

Apa yang membedakan kau dengan kompetitor? Sering sekali ada beberapa startup yang bergotong-royong hanya mengikuti inspirasi yang sudah ada, sehingga tidak ditemukan perbedaan.

Namun sebenarnya, kebanyakan para investor lebih tertarik dengan harga layanan yang ditawarkan. Karena dari harga tersebut, sanggup ditentukan apakah harga tersebut rasional atau layak diterima pasar?, seberapa besar kemungkinan untuk diserap oleh pasar?, apakah sanggup bundling harga? dan semacamnya.

2. Siapa foundernya?

Banyak dari beberapa investor juga mempertanyakan wacana latar belakang dari founder itu sendiri. Hal ini dikarenakan investor ingin tahu wacana track record dari para founder.

Terkadang selain menanyakan pendidikan, pengalaman, investor juga mengulik sampai ke dilema personal menyerupai background keluarga, cita-cita si founder dan lain-lain. Hal ini sangat penting bagi investor sebelum mempercayakan uangnya ke sebuah startup di tahap awal.

“Banyak kami temukan startup yang tidak layak di-invest hanya sebab salah satu founder di awal berdiri tidak full time di startup yang ia bangun. Secara gampang, investor hanya membeli idenya saja, hal ini tentu merugikan bagi investor,” kata Victo.

Pria yang juga menjabat sebagai Strategic Business Analyst and Development Manager Jakarta Notebook ini juga mengatakan, berbagai startup yang tidak berkembang sebab foundernya tidak fokus pada startup.

“Hal ini juga menjadi salah satu pertimbangan kuat, walaupun startup itu terdiri dari beberapa orang dan hanya satu orang yang tidak full time, maka tetap tidak layak diinvest,” ungkapnya.

3. Bagaimana dengan market size?

Terkait market size, biasanya akan ditanya beberapa hal menyerupai apakah ada fitur baru? Apakah perusahaan ini sanggup dikolaborasikan dengan bisnis lain? Apakah startup ini sanggup scale dengan waktu yang cepat?

Dalam pertanyaan ini, sering kali investor menanyakan beberapa metriks tergantung dari indsutri apa yang dimasuki oleh startup tersebut, contohnya jumlah user, GMV, total subscribe, partner, klien dan lain lain tergantung dari industrinya.

4. Apa taktik supaya menghasilkan profit?

Hal ini sangat penting, sebab akan memilih apakah perusahaan ini sanggup mempertahankan bisnisnya dalam jangka panjang atau tidak.

“Kerap saya temukan startup hanya fokus pada akuisisi sehingga melupakan profit untuk mempertahankan bisnisnya. Burn money tentu dibutuhkan, tetapi perlu digarisbawahi bahwa founder harus menjelaskan berapa usang akan memperabukan uang tersebut, berapa usang siklus cash flow jikalau di berikan pendanaan baru, kemudian bagaimana cara bakar uang tetapi menghasilkan omzet berkali-kali lipat,” terang Victo.

Karena pada prinsipnya, investor bukan pencetak uang yang setiap kali startup kehabisan uang untuk menjalankan bisnisnya, kemudian dengan praktis meminta lagi.

“Investor juga memakai uang dari kantong sendiri. Makara prinsipnya, saya tidak mau kasih uang kepada orang yang tidak bertanggung jawab untuk menghasilkan profit nantinya,” tegasnya.

7 Hal yang Sering Ditanyakan Investor pada Founder Startup Ilustrasi. Foto: Ari Saputra

5. Berapa Valuasi perusahaan kamu?

Sejumlah startup kadang tidak mengerti bagaimana cara melaksanakan valuasi perusahaanya. Alhasil, valuasi mereka banyak yang tidak masuk nalar dan tidak menggambarkan kondisi perusahaannya.

Secara sederhana, valuasi yaitu harga yang ditawarkan ke pasar modal yang nantinya akan dijadikan patokan harga jual perusahaan. Contohnya, perusahaan A mencari investasi gres sebesar USD 150 ribu dengan memperlihatkan 10% equity atau saham.

Memang dana sebesar itu tidak terlalu besar, namun bagaimana dengan equity-nya? Tentu menilai apakah investasi tersebut mahal atau tidak tergantung dari kondisi finansialnya.

Jika ternyata startup masih belum sanggup menghasilkan profit atau income, maka harga USD 150 ribu dirasa sangat mahal sehingga biasanya mereka akan menaikan equity.

Dengan demikian, founder harus berhati-hati dalam memilih valuasi startup supaya investor lebih yakin dan mantap untuk berinvestasi. Tunjukkan data finansial atau projection, kemudian gunakan pendekatan apa saja untuk mendapat data tersebut.

6. Strategi menyebarkan bisnis?

Investor juga perlu kejelasan langkah apa yang ingin kau ambil untuk menyebarkan bisnis tersebut. Tanpa perencanaan yang matang, tentu akan menciptakan investor sulit memprediksi seberapa cepat startup sanggup tumbuh.

Oleh sebab itu, siapkan planning apa saja yang ingin dilakukan, baik dari biaya yang akan dikeluarkan ke marketing, development, operation, dan lain-lain.

Dengan adanya data ini, investor akan lebih praktis memprediksi perkembangan startup dan memilih belahan mana yang seharusnya difokuskan oleh founder sehingga lebih efisien dalam memakai pendanaan tersebut.

7. Jangan memaksa, namun terus jalin komunikasi

Poin terakhir bergotong-royong bukan sebuah pertanyaan, tapi sanggup menjadi masukan supaya kalian lebih mantap ketika berhadapan dengan calon investor.

Para founder harus selalu siap untuk ditolak oleh para investor. Sebenarnya, investor tidak menolak secara langsung, melainkan ingin melihat dulu perkembangan startup yang dirintis.

“Jadilah pribadi yang mau berguru mendengarkan apa pendapat dari para investor yang ditemui dan jangan berhenti untuk menjalin komunikasi dengan mereka. Kamu sanggup terus-menerus setiap ahad memperlihatkan update press release wacana perkembangan startup kau kepada mereka misalnya. Sehingga mereka sanggup melihat perkembangan perusahaan yang kau rintis dikala ini,” saran Victo.

Nah, para founder startup, terus semangat untuk membangun bisnis kalian. Victo mengingatkan bahwa segala sesuatu tidak ada yang instan, sebab butuh proses dan perjuangan.

“Jangan terlalu banyak berharap untuk mendapat iming-iming pendanaan, tetapi kau sanggup mulai dengan buktikan dahulu bahwa bisnis kau layak untuk menjadi the next unicorn Indonesia,” tutupnya.

Simak Video “Dibayar Rp 19,6 Juta Cuma untuk Tidur, Mau?
[Gambas:Video 20detik]