Cerita Oscar Lawalata Soal Tantangan Pamer Batik Di Unesco Paris

Padu-padan Kain untuk Millennial Ala Sejauh Mata Memandang & Oscar Lawalata

Jakarta – Awal Juni mendatang, batik akan naik pentas di panggung dunia ketika tiga desainer Indonesia mempersembahkan ekspo ‘Batik for the World’ di markas UNESCO, Paris, Prancis. Oscar Lawalata, desainer sekaligus pencetus program tersebut, menceritakan tantangan di balik persiapannya.

Ide untuk menggelar ‘Batik for the World’ berangkat dari kepedulian dan apresiasi Oscar terhadap batik sebagai warisan budaya Indonesia. Menurut desainer berdarah Ambon-Minahasa ini, melestarikan batik tak hanya cukup dengan mempromosikannya di negeri sendiri.

Batik harus keluar sangkar semoga keindahannya dapat menggaung hingga ke seluruh dunia. Kantor sentra UNESCO sebagai organisasi PBB yang mengurusi pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan PBB pun menjadi lokasi ideal untuk memperkenalkan batik. UNESCO sendiri telah mengukuhkan batik sebagai Warisan Budaya Dunia pada Oktober 2009.

Baca Juga: Jangan Asal Pakai, Kenali 7 Motif Batik Paling Populer dan Maknanya

Bagi Oscar sendiri, ‘Batik for the World’ bagaikan sebuah penantian usang yang karenanya terwujud. Betapa tidak, Oscar harus menunggu hampir dua tahun semoga dapat membawa batik ke UNESCO. “Soalnya bukan Indonesia saja yang mau tampil di sana. Banyak negara yang mengantre. Kaprikornus beruntung sekali, batik karenanya dapat tampil di UNESCO,” ujar Oscar ketika jumpa pers di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Selasa (8/5/2018) siang.

Jumpa pers Batik for The World, membawa batik ke UNESCO, Paris.Jumpa pers Batik for The World, membawa batik ke UNESCO, Paris. Foto: Dok. BATIK FOR THE WORLD

Untuk ‘Batik for the World’ yang berlangsung pada 6-12 Juni mendatang, Oscar juga menggandeng rekannya sesama desainer Denny Wirawan, serta desainer senior Edward Hutabarat. Keberangkatan mereka juga didukung Bank Mandiri dan Bakti Budaya Djarum Foundation.

Foto: 9 Inspirasi Padu-padan Sneakers dan Kain Batik ala Obin

Masing-masing desainer akan menampilkan delapan set busana berbahan batik yang berasal dari bermacam-macam daerah. Oscar sendiri menentukan batik hasil perajin di enam kawasan di Jawa Timur, yakni Trenggalek, Sidoarjo, Kediri, Tuban, Ponorogo, dan Madura.

“Batik itu kan luas sekali. Batik dari Jawa Tengah sudah sering diangkat, sementara batik dari Jawa Timur jarang. Padahal motifnya nggak kalah cantik. Perajinnya juga menggunakan pewarnaan alam,” jelas Oscar perihal alasannya ialah menentukan batik dari Jawa Timur.

Mengolah batik sebagai warisan Nusantara bagi Oscar mempunyai tantangan tersendiri. “Tantangannya ialah bagaimana mengangkat batik itu sendiri walaupun look-nya modern. Fokusnya harus tetap ke batik, sehingga orang yang gres pertama kali lihat pribadi bertanya-tanya itu kain apa,” kata Oscar yang akan menampilkan koleksi bergaya cocktail dress.