Cinta Kain Indonesia, Dokter Australia Koleksi Seribuan Tenun Dan Batik

Apa Jadinya Jika Peragaan Busana Digelar di Hutan Kota Kediri?

Pengunjung mengamati tenun di ekspo Encounters with Bali: A Collectors Journey di Museum Tekstil Jakarta. (Foto: Daniel Ngantung/Wolipop)Pengunjung mengamati tenun di ekspo ‘Encounters with Bali: A Collector’s Journey’ di Museum Tekstil Jakarta. (Foto: Daniel Ngantung/Wolipop)

Jakarta – Keindahan wastra Nusantara mencuri perhatian seorang pensiunan dokter asal Australia. Saking cintanya, beliau bahkan mengoleksi hampir seribu kain tradisional Indonesia semenjak 30 tahun lalu.

Dialah dr. John Yu AC, laki-laki Australia keturunan China yang hampir 50 tahun lebih mendedikasikan diri sebagai dokter anak. Di tengah kesibukannya sebagai dokter sekaligus rektor sebuah universitas di Australia dulu, John rupanya hobi mengoleksi benda-benda antik, salah satu langka kain langka Indonesia. Setelah pensiun, ia pun masih menekuni hobinya.

Baca Juga: Foto: Intip Tenun Indonesia Berusia Ratusan Tahun Milik Kolektor Australia

Dr. John Yu, kolektor kain tenun dan batik asal Australia. Koleksinya sekarang hampir mencapai seribuan kain.Dr. John Yu, kolektor kain tenun dan batik asal Australia. Koleksinya sekarang hampir mencapai seribuan kain. (Foto: Daniel Ngantung/Wolipop)

Kecintaan John pada wastra Nusantara bermula dari perburuan di sebuah toko barang antik di Sydney, Australia, sekitar tiga dekade lalu. Sebuah kain tenun bernuansa kebiruan dari Sawu, Nusa Tenggara Timur, yang dijual toko tersebut menarik perhatiannya. Bagai cinta pada pandangan pertama, ia dibentuk terpesona oleh warna indigo alaminya, serta motif yang mirip ikan.

Sejak itu, John mulai rajin berburu kain tenun Indonesia di toko-toko antik dan balai pelelangan di Australia. Tiga tahun sehabis momen cinta pertamanya, John bersama rekannya, mendiang dr George Bryce Soutter AM, kemudian melancong ke Bali untuk mencari kain incarannya. Ia kemudian mengeskplor ke penjuru lainnya di negeri ini, terutama daerah timur Indonesia.

Baca Juga: Oscar Lawalata Bicara Potensi Batik Bisa Eksis di Pasar Eropa

Tenun dari Sawu, NTT, ini merupakan wastra yang pertama kali dibeli oleh John.Tenun dari Sawu, NTT, ini merupakan wastra yang pertama kali dibeli oleh John. F(oto: Daniel Ngantung/Wolipop)

Dan kini, sebagian kecil dari hasil perburuan tersebut dipamerkan di Museum Tekstil Jakarta dalam sebuah ekshibisi bertajuk ‘Encounters with Bali: A Collector’s Journey’ pada 11 Juli – 5 Agustus 2018. Sebanyak 63 kain dari seluruh penjuru Nusantara milik John dan George dipamerkan, mulai dari tenun geringsing khas Bali sampai tapis dari Lampung.

Kain tenun dari Sawu yang merupakan cinta pertama John pun termasuk dalam koleksi ekspo ini. “Ibarat anak, sungguh sulit menentukan kain terfavorit dari koleksi saya. Tapi anak pertama selalu terasa Istimewa alasannya ialah di situlah momen Anda menjadi orangtua. Begitu pula perasaan saya pada kain ini,” ujar laki-laki kelahiran 1934 ini jelang program pembukaan pameran, Selasa (10/7/2018).

Deretan kain tersebut hanya segelintir dari koleksi John yang jumlahnya sudah mencapai hampir seribuan. Koleksi tersebut didominasi oleh tenun, hanya seratus di antaranya batik. “Sekitar 600-700 saya simpan di rumah, kemudian tiga ratus saya pinjamkan ke museum untuk dipamerkan,” terang John.

Koleksi tenun milik John dipamerkan di Museum Tekstil Jakarta sampai 5 Agustus mendatang.Koleksi tenun milik John dipamerkan di Museum Tekstil Jakarta sampai 5 Agustus mendatang. (Foto: Daniel Ngantung/Wolipop)

Bagi laki-laki yang mengaku pecinta seni rakyat ketimbang high-art ini, mengoleksi kain antik bukan soal komersial atau investasi. Kepuasan eksklusif serta pengalaman untuk memerolehnya yang menjadi tujuan utama John sebagai kolektor kain. Maka saat ditanya berapa total nilai koleksinya, John sulit untuk mengestimasinya.

Tak heran kalau ia dengan bahagia hati ‘menyumbangkan’ beberapa koleksinya kepada museum selama kain sanggup dijaga dengan baik. Seperti yang dilakukan mantan rektor Universitas New South Wales ini di Museum Tekstil Jakarta. Ini ialah kali pertama kain-kain tersebut dipamerkan di luar Australia.

“Impian saya ialah mengembalikan kain-kain ini untuk dipamerkan lagi di tempat asalnya. Lewat ekspo ini, saya ingin orang Indonesia tahu bahwa budaya mereka sangat dihargai betul oleh orang luar. Makara Anda seharusnya bangga,” kata John.