Desainer Didi Budiardjo Terlahir Kembali Di Peragaan 30 Tahun Berkarya

Apa Jadinya Jika Peragaan Busana Digelar di Hutan Kota Kediri?

Jakarta – Tanpa terasa, 30 tahun sudah Didi Budiardjo mendedikasikan dirinya sebagai desainer mode. Belum ada niatan untuk pensiun yang terbesit di benak perancang multitalenta ini. Didi justru menentukan untuk tetap berkarya dari hati dalam spirit yang baru.

Sebuah peragaan indah bertajuk ‘Terlahir Kembali’ yang digelar di The Tribrata, Jakarta Selatan, Selasa (26/3/2019), seakan menjadi komitmen Didi akan komitmen tersebut kepada para pecintanya. Ini sekaligus menandai peragaan tunggal perdana Didi sehabis lima tahun ‘absen’.

Bagi Didi ‘Terlahir Kembali’ bukan soal selebarasi atau ajang pamer prestasi sehabis 30 tahun eksis di ranah mode Tanah Air. Pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 22 November 1970, ini pantang berpuas diri.

Fashion show Didi Budiardjo.Fashion show Didi Budiardjo. Foto: Muhammad Abduh/Detikcom

Menurut Didi, iklim industri fashion ketika ini lebih demokratis dengan segala dinamikanya sehingga desainer dituntut untuk lebih kreatif biar tetap bertahan. Ia kemudian merasa ada ‘urgensi’ untuk menyegarkan kembali ide atau konsep Didi Budiardjo sebagai sebuah merek demi menjawab tantangan tersebut. Itu mengapa ia menentukan ‘Terlahir Kembali’ sebagai tajuk peragaan tunggalnya kali ini.

“Lewat peragaan ini, aku ingin mengekspresikan eksistensi aku sebagai desainer Indonesia. Di satu sisi aku merasa sudah melaksanakan segalanya tapi belum mau berhenti. Agar tetap sanggup berkarya, aku harus terlahir kembali,” kata desainer tamatan LPTB Susan Budihardjo ini.

Maka momen Istimewa ini ia juga manfaatkan untuk memperkenalkan logo terbaru ‘Didi Budiardjo’ buah kolaborasinya dengan desainer visual Felix Tjahyadi. Belakangan, banyak sekali rumah mode dunia yang sudah usang eksis mirip Burberry, Celine dan Saint Laurent berbondong-bondong melaksanakan seni administrasi yang sama biar tetap relevan dengan situasi pasar masa kini.

Felix yang pernah menangani visualiasi pajangan atau window display di butik Hermes Indonesia, menjelaskan, logo gres tersebut tampil dengan abjad bergaya minimalis untuk mengatakan karakter desain Didi yang ‘apa adanya’ dengan aksen distorsi biar terasa lebih kekinian. “Dari segi penampilan, sangat straight forward. Sangat sederhana tapi gampang diingat,” ucap Felix yang juga dipercayai sebagai art director peragaan ‘Terlahir Kembali’.

Kesan itu pula yang muncul di benak ketika menyaksikan peragaan ini. Tak ada panggung dengan perhiasan properti yang berlebihan. Catwalk dibentuk menyatu dengan lantai dalam balutan karpet merah yang menghampar dari ujung ke ujung. Bagian depan dihiasi semacam ‘tirai’ bunga, juga berwarna merah, yang menjuntai dari atas. Warna merah sendiri merepresentasikan ‘jantung’ sekaligus semangat Didi yang selalu berkarya dari hati.

“Mendesain buat aku itu menyerupai jantung. Kalau aku berhenti merancang, maka rasanya mirip mati,” kata Didi yang juga pernah merancang interior dan perabotan rumah tangga ini.

Fashion show Didi Budiardjo.Fashion show Didi Budiardjo. Foto: Muhammad Abduh/Detikcom

Dalam kesederhaan tersebut, peragaan ini cukup merangkum segala hal yang menginspirasi Didi dalam berproses kreatif. Mulai dari Prancis, negara yang ia pilih untuk memperdalam ilmu mode, sampai musik klasik. Itu terasa ketika bermunculan busana dengan kerah bergaya Victorian yang aristorkat.

Sementara itu, alunan musik klasik yang melankolis ikut mengiringi langkah para model hampir sepanjang peragaan. Permainan cahaya yang didesain sedemikian rupa menciptakan suasana kian terasa puitis dan romantis.

Fashion show Didi Budiardjo.Fashion show Didi Budiardjo. Foto: Muhammad Abduh/Detikcom

Adapun 30-an busana yang tersaji semakin mempertegas kepiawaian Didi sebagai desainer dalam mengeksekusi teknik dan mengolah material. Berbagai siluet, warna dan materi dieksplornya demi mengakomodasi kebutuhan pecintanya. Tampil formasi gaun-gaun struktural nan dramatis sampai jalan masuk transparan yang seksi bagi mereka yang ingin tampil menenatang. Untuk tampilan yang lebih ‘modest’, ada jaket over-sized atau blus-blus tertutup yang dipermanis dengan permainan beading.

Fashion show Didi Budiardjo.Fashion show Didi Budiardjo. Foto: Muhammad Abduh/Detikcom

Para tamu yang duduk di barisan depan sangat mewakili betapa karya Didi memenuhi selera para perempuan lintas generasi. Mereka yang hadir di antaranya aktris Laura Basuki, pakar tata krama yang juga ibu dari calon wakil presiden Sandiaga Uno, Mien Uno, Direktur Program Djarum Foundation Renitasari Adrian, kemudian pengusaha dan pelopor perempuan Dewi Motik.

Sebelum peragaan utama dimulai, Didi menyuguhkan tujuh busana yang terbuat dari tenun khas Donggala dan Lombok, dua kawasan yang dilanda gempa besar dan tsunami tahun lalu. “Menurut saya, seorang perancang Indonesia harus tahu wastra negeri sendiri sebagai sebuah identitas bangsa,” kata Didi yang aktif melaksanakan training kepada perajin kain tradisional di banyak sekali pelosok Indonesia.

Tonton juga video Ketika Alam dan Manusia Dipersatukan di Lucky Trend Fashion Show:

[Gambas:Video 20detik]

Desainer Didi Budiardjo 'Terlahir Kembali' di Peragaan 30 Tahun Berkarya