Fakta-Fakta Belanja Barang Impor Kena Pajak Yang Harus Kau Tahu

Kecanduan Belanja Online Kini Termasuk Gangguan Mental, Ini Ciri-cirinya

Jakarta – Suka beli barang-barang impor? Siap-siap untuk merogoh kocek lebih dalam lagi. Karena Ditjen Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan akan menurunkan batasan (threshold) bea masuk dan pajak untuk barang kiriman. Artinya produk luar negeri dapat saja bakal jadi lebih mahal. Sebelum menetapkan untuk beli tas, sepatu, skincare, atau merchandise dari merk luar, pelajari dulu fakta-fakta belanja barang impor kena pajak yang harus kau tahu.

Kena Pajak
Telah ditetapkan bahwa bea masuk dan pajak barang kiriman dari luar negeri dapat jadi naik sebab batasannya diturunkan. Sebelumnya, barang bebas bea masuk maksimal ialah US$ 75 atau Rp 1.050.000. Tapi hukum barang impor gres menurunkannya menjadi US$ 3 atau Rp 45.000. Jadi, barang dengan harga di atas Rp 45 sudah dikenakan bea masuk. Ini hanya berlaku untuk kiriman pribadi bukan hand carry.

Perhitungannya
Kepala Subdirektorat Jenderal (Kasubdit) Humas Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kemenkeu Deni Surjantoro menjelaskan sketsa perhitungan pengiriman barang dari luar negeri beserta bea masuk dan pajak-pajaknya.

Ada beberapa unsur dalam perhitungan bea masuk barang kiriman. Pertama hitung nilai dasar pengenaan bea masuk yang terdiri dari harga barang (cost) + nilai asuransi (insurance) + ongkos kirim (freight) atau biasa disebut nilai CIF.

“Kemudian CIF itu dikalikan dengan tarif bea masuk itu 7,5%, kecuali tas, sepatu dan garmen,” terang Deni kepada detikcom, Kamis (26/12/2019).

Alasannya
Menurut klarifikasi akun resmi Twitter Ditjen Bea dan Cukai alasan kebijakan pajak barang impor dibentuk karena semakin besarnya pake kiriman dari luar negeri. Pada 2019 sudah tercatat sebanyak 49,69 juta paket kiriman dari luar negeri. “Ini meningkat tajam dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar 19,57 juta paket pada tahun 2018,” terang admin @beacukaiRI dilansir dari akun resminya, Kamis (26/12/2019).

Banyaknya paket kiriman barang dari luar negeri ditakutkan akan membahayakan sejumlah industri dalam negeri yang guling tikar terutama produsen tas, sepatu, dan tekstil. “Karena itulah pemerintah harus mengambil langkah untuk melindungi industri dalam negeri. Kita ga mau kan Indonesia kebanjiran barang impor?” tulisnya.

Tarif Beda
Namun perhitungan seberapa besar kenaikan barang impor yang kena pajak ini dapat berbeda-beda sesuai jenisnya. Dikatakan bila pemerintah memperlihatkan tarif bea masuk yang berbeda untuk produk tas, sepatu dan tekstil yakni 15-20% untuk tas, 25-30% untuk sepatu, dan 15-25% tekstil.

Kecuali Buku
Beruntung Anda para kutu buku sebab buku bukan termasuk barang yang kena tarif impor. Dikatakan bila impor buku memang dibebaskan dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh). Jadi, tidak ada pungutan khusus baik bea masuk dan pajak impor untuk buku.

Berlaku Sebentar Lagi
Jika kau berniat beli barang impor dalam waktu erat sebaiknya segera dipercepat. Karena hukum gres bea masuk dan pajak produk impor akan berlaku mulai awal tahun 2020.

Simak Video “‘Singles Day’, Perayaan untuk Jomblo yang Munculkan Diskon Belanja Online 11.11
[Gambas:Video 20detik]