Gabungkan Desain Batik Indonesia Dan Jepang, Putri Raup Omzet Puluhan Juta

Merayakan Sang Guru dan Maestro Batik di Koleksi Terbaru Iwan Tirta

Jakarta – Mari berkenalan dengan perancang batik muda Putri Urfanny Nadhiroh S.Ds., M.A atau dikenal dengan nama Putri Komar. Putri dikenal sebagai pencipta Shibotik, busana yang menggabungkan motif batik Indonesia dengan Shibori yang terkenal sebagai ‘batik’ asal Jepang.

Sejak kecil Putri sudah terpapar dengan dunia batik. Ayahnya yakni pendiri merk Rumah Batik Komar, Komarudin Kudiya, yang cukup terkenal di Bandung. Sebelum ayahnya, kakek dan neneknya pun dikenal sebagai pengrajin batik.

“Kedua orangtuaku bisnis rumahan, jadi awalnya di garasi rumah bikinnya. Setiap hari saya melihat caranya bikin batik, terus lama-lama terbentuk passionnya sama,” terang Putri ketika dihubungi oleh Wolipop, Senin (30/9/2019).

Gabungkan Desain Batik Indonesia dan Jepang, Putri Raup Omzet Puluhan JutaFoto: Instagram @shibotik


Sebelum sekarang dikenal sebagai pendiri batik Shibotik, Putri mengisahkan bagaimana beliau sanggup menggapai mimpinya sebagai pengusaha batik ibarat ayahnya. Putri mengaku sudah jatuh cinta dengan dunia desain, khususnya batik semenjak kecil.
“Dari Sekolah Menengah Pertama sudah ikutan lomba desain batik juara dua, Sekolah Menengan Atas ikutan lagi,” katanya.

Jatuh cinta pada dunia desain, Putri menempuh pendidikan di ITB jurusan kriya tekstil. Setelah lulus kuliah pada 2015 gres beliau mendirikan Shibotik, yang menjadi anak perusahaan dari Batik Komar milik orangtuanya.

“Shibotik itu memadukan motif Shibori dan batik jadi tetap ada unsur batiknya tapi lebih modern alasannya digabungin dengan shibori. Ciri khasnya ada perpaduan kain shibori dan batik, biasanya mereka nggak digabungin satu kain. Kalau shibotik itu tanpa sambungan jadi shibori dan batiknya ngeblend di dalam satu kain,” kata Putri.

Gabungkan Desain Batik Indonesia dan Jepang, Putri Raup Omzet Puluhan JutaFoto: instagram @putrikomar

Shibotik yang unik ini berdasarkan Putri pertamakali diciptakan olehnya. Ayahnya pun memutuskan untuk mendaftarkan motif karyanya itu ke Kantor Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) untuk mendapat hak paten.

“Takutnya sudah launching, orang banyak yang menggandakan alasannya belum ada yang bikin sebelumnya. Kaprikornus sudah ada hak patennya shibotik ini,” tambahnya.

Putri meraih sejumlah prestasi berkat inovasinya dengan Shibotik ini di mana beliau menggabungkan motif batik khas Indonesia dengan Shibori, teknik pewarnaan yang terkenal di Jepang dan kerap disebut sebagai ‘batik’ asal Negeri Matahari Terbit. Dia pernah terpilih sebagai pembantik muda berkarya dan pembatik inspiratif dari Yayasan Batik Indonesia.

Gabungkan Desain Batik Indonesia dan Jepang, Putri Raup Omzet Puluhan JutaShibotik ketika ikut pameran. Foto: instagram @shibotik

Gelar dari YBI itu juga yang membawanya meraih beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). “Akhirnya sanggup itu saya eksklusif kuliah di Inggris ambil Fashion Design di University of Southampton, Winchester School of Art, S-2 selama satu tahun,” katanya.

Setelah lulus S-2 Putri semakin serius menjalani bisnis batik Shibotik. Dia pun mengikuti banyak sekali festival fashion besar di Jakarta untuk semakin mengenalkan Shibotik. Memiliki motif yang unik, karyanya dilirik banyak orang.

Putri mengungkapkan beliau sanggup mendapat omzet sekitar Rp 60 – 80 juta dari mengikuti festival besar di Jakarta selama empat hari. Dan di showroom Batik Komar di Bandung, batik karyanya mendapat omzet sekitar Rp 10 – 20 juta.

Gabungkan Desain Batik Indonesia dan Jepang, Putri Raup Omzet Puluhan JutaDesain Shibotik. Foto: instagram @shibotik

“Marketnya itu saya masuknya di Jakarta banyak peminatnya. Makanya sering ikut festival JCC, kayak Inacraft, JBN, IFW dll. Pokoknya kita juga selektif sih yang acaranya memang bagus. Udah event yang bertahun-tahun dan besar,” jelasnya lagi.

Tentu saja ibarat bisnis pada umumnya, perjalanan Putri dan Shibotik tak selalu mulus. Kendalan dihadapi perempuan kelahiran 1993 itu ketika mencoba berjualan online.

“Kemarin saya sempat menciptakan website, itu kan nggak sedikit kan biayanya. Terus ternyata responnya nggak sebagus itu jikalau online, bahkan jikalau online dalam sebulan itu nggak ada yang beli. Mungkin dalam lima bulan cuman satu,” kata Putri yang merangkap sebagai creative director dan marketing Shibotik.

Gabungkan Desain Batik Indonesia dan Jepang, Putri Raup Omzet Puluhan JutaFoto: Instagram @shibotik


Putri pun sekarang menentukan fokus berjualan offline. Dia cukup puas alasannya batik Shibotik sanggup diterima oleh anak muda. Menurut ibu satu anak itu, anak muda menyukai motif batik yang sederhana.

“Kalau di batik itu kan desain-desainnya itu motif mengisi jadi ada motif tutulnya, garisnya, detail batiknya lebih kelihatan, jadi anak muda itu di-stilasi, misalnya motif bendo cumansiluetnya doang, jadi nggak ada detailing dalamnya. Dan dimodifikasi banget, kan kayak bukan batik banget. Lebih modern,” jelasnya.

Inovasi terus dilakukan Putri dalam membuatkan batik Shibotik. Saat ini yang sedang dilakukannya yakni produksi zero waste. Artinya dalam memproduksi busana, beliau tidak mau menghasilkan sampah.
“Jadi ada sisa perca dimanfaatin. Kalau ada sisa kain perca agak besar sanggup dimanfaatin buat baju bayi, alasannya kan ada juga peminatnya baju bayi buat kondangan. Dan juga bikin pouch dan cluth kecil. Kalau percanya kecil itu saya jadiin sandal,” pungkas Putri.

Gabungkan Desain Batik Indonesia dan Jepang, Putri Raup Omzet Puluhan JutaPutri Urfanny Nadhiroh. Foto: instagram @putrikomar

Simak Video “Presiden Jokowi dan Ibu Iriana Asyik Membatik di Solo
[Gambas:Video 20detik]