Indoxxi Tutup, Situs Sejenis Bakal Tetap Eksis

Foto: Adi Fida Rahman/detikINETFoto: Adi Fida Rahman/detikINET

JakartaIndoXXI akan tutup pada 1 Januari 2020. Pun begitu, situs-situs sejenis diyakini tetap eksis.

Hal ini dikatakan oleh sineas sekaligus CEO Rombak Media Dennis Adhiswara. Menurutnya, penutupan IndoXXI itu akan dilanjutkan dengan dibukanya situs serupa dengan nama dan alamat yang berbeda.

Belum lagi peminat situs streaming bajakan masih banyak. Entah mereka memang tidak mau mengeluarkan uang untuk berlangganan maupun memang kesulitan akses.

“Mereka yang mau nonton konten legal tapi kanal terhalang, misalnya di kotanya tidak ada bioskop, mau nonton Netflix tapi diblokir, Disney+ belum tersedia. Mereka terpaksa pakai jalur bajakan. Mereka inilah yang berpotensi bisa pindah ke situs legal bila dipermudah aksesnya,” kata Dennis ketika dihubungi detikINET.

Lanjut diungkapnya, banyak pengguna belum teredukasi dengan baik bahwa situs illegal bisa mencuri segala macam data langsung si pengguna, mulai dari password email sampai nomor kartu kredit.

“Selama mereka belum teredukasi dengan baik, maka jangan kaget jikalau media umum mereka rentan di-hack. Dan itu hanya salah satu dari sekian risiko lainnya menyerupai virus, malware, sampai komputer pengguna melambat gara-gara dijadikan mining cryptocurrency oleh si pembajak,” terang laki-laki yang dikenal sebagai Mamet di film Ada Apa Dengan Cinta ini.

Padahal, ketika ini berlangganan layanan streaming legal tidak mengecewakan terjangkau. Misalnya, berlangganan Netflix bisa mulai dari Rp 49 ribu per akun. Berlangganan HBO GO mulai harga Rp 60 ribu termasuk 5 GB data.

“Bila dibandingkan dengan harga tiket bioskop Rp 40 ribu per sekali nonton, terperinci lebih murah. Kalau mau irit data untuk nonton, bisa ke wifi hotspot kemudian download di masing-masing aplikasi,” terang Dennis.

IndoXXI Tutup, Situs Sejenis Bakal Tetap EksisCEO Rombak Media Dennis Adhiswara. Foto: Adi Fida Rahman/detikINET

Masalah Pelik

Lebih dari 1.000 lebih situs konten bajakan diblokir Kominfo. Tapi patah tumbuh hilang berganti, banyak situs gres sejenis bermunculan.

Melihat itu, Dennis beropini di negara manapun, tak terkecuali Indonesia, selalu kalah langkah dengan pembajakan. Ada tiga persoalan yang dilihatnya.

Banyak orang berpikir menangkal situs streaming ilegal merupakan pekerjaan rumah Kementerian Kominfo semata. Dan sejauh ini, kanal menonton film legal masih tidak dinikmati banyak orang, terutama luar pulau Jawa. Dan ada mindset Robbin Hood Syndrome di pengguna situs ilegal.

“Mereka berpikir bahwa sah-sah saja mencuri nonton film alasannya para produsen film jauh lebih kaya daripada para penonton,” ujar Dennis.

Pria berkacamata ini menyarankan pemerintah tetap melaksanakan pemblokiran, menyerupai halnya China lewat kampanye Net Sword Action 2018-nya.

Pemerintah juga perlu mendorong dan fasilitasi film untuk lebih banyak diproduksi di kawasan luar Jabodetabek dan Pulau Jawa. Melibatkan sebanyak mungkin masyarakat lokal untuk ikut berkontribusi dalam produksi tersebut.

“Masyarakat lokal harus bisa mencicipi manfaat ekonomi dari sebuah produksi film di wilayahnya lewat penyewaan tempat, alat, perjuangan catering, wisata dan lain-lain. Sehingga kelak penonton paham bahwa dengan menonton film legal, berarti ia mendukung semua yang terlibat di produksi film, termasuk masyarakat lokal juga,” papar Dennis.

Meninjau ulang pelajaran agama dan budi pekerti di sekolah juga turut disarankannya.

“Menonton dan mengedarkan bajakan yaitu pencurian atas ciptaan kreatif insan lainnya. Kalau selama ini pelajaran agama dan budi pekerti di sekolah masih nggak bisa mencegah seseorang untuk mencuri secara signifikan, berarti harus ditinjau ulang efektivitasnya,” pungkas Dennis.

Simak Video “Soal Netflix Diblokir Telkom, Ini Kata Menkominfo Johnny
[Gambas:Video 20detik]