Jual Piscok Lewat Grabfood, Omzet Perjuangan Cowok Makassar Ini Naik 50%

Foto: dok grabFoto: dok grab

Jakarta – Memulai sebuah bisnis hingga meraih kesuksesan tentu bukanlah masalah gampang. Proses yang dilalui tidak pernah instan. Dalam perjalanan memulai bisnis, tentu harus mengorbankan sejumlah hal mulai dari tenaga, pikiran, dan yang tak kalah penting ialah modal.

Cara seorang pebisnis untuk mendapat modal, tentu bermacam-macam. Salah satu pengusaha muda asal Makassar, M. Abi Rafli Syarif (22), pemilik jajanan Pisang Cokelat (Piscok) Super, menceritakan wacana upayanya mendapat modal untuk membangun bisnis dengan menjual arloji atau jam tangan kesayangannya.

Dengan hasil penjualan jam tangan yang seharga Rp500 ribu itu, Abi membuka gerai Pisang Cokelat perdananya pada tahun 2017 silam.

Gerai pertama Abi dibuka di kompleks rumahnya. Semua serba dikerjakan sendiri, mulai dari produksi hingga pengantaran produk hingga ke tangan pelanggan. Awalnya, Abi hanya memasarkan Piscok Super melalui media sosialnya.


Abi mengisahkan, perjalanan bisnisnya hingga sukses pada bidang kuliner dibumbui dengan jatuh bangun. Selain pernah menggeluti bisnis fashion, anak kedua dari tiga bersaudara itu, juga pernah melalui lika-liku perjalanan sebagai penjual ikan cupang, namun semuanya berakhir tanpa hasil yang maksimal.

Baru lah pada bisnis kuliner berbahan dasar pisang ini, ia bisa merasakan buah bagus dari jerih payahnya dalam berwirausaha. Bakat bisnis yang dimiliki Abi menurun dari kedua orang tuanya yang juga seorang pebisnis. Ibarat kata, buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

“Memang jiwa bisnis saya dipengaruhi oleh orang tua. Dalam lingkungan keluarga selalu membicarakan bisnis, tentu secara otomatis, hal yang saya dengar dari lingkungan keluarga, akan tertanam juga dalam diri saya,” ucap alumni Sekolah Menengan Atas Negeri 1 Makassar ini.

Menurutnya, ia sudah bisa berpenghasilan semenjak duduk di dingklik Sekolah Menengan Atas dengan talenta menggambar yang dimilikinya. Saat lulus SMA, ia ditawari pilihan oleh orang tuanya untuk melanjutkan pendidikan di dingklik kuliah atau diberi modal untuk membuka usaha.

Tapi Abi tak menginginkan keduanya, sebab tidak ingin lagi bergantung pada derma modal orang tua. Dia lebih menentukan bekerja sebagai tukang gambar di kafe-kafe. Upah menggambar tersebut kemudian dimanfaatkannya untuk membuka bisnis di bidang fashion.

“Saat lulus SMA, saya tidak menentukan melanjutkan pendidikan di dingklik kuliah untuk memperdalam ilmu bisnis, tapi menentukan terjun pribadi menjadi praktisi bisnis dan ternyata itu pilihan tepat,” jelasnya.

Abi berprinsip, untuk menjadi pebisnis sukses, faktor yang terpenting ialah eksekusi, tak hanya sebatas teori.

“Banyak orang yang pandai secara teori, ingin memulai bisnis, tapi terlalu banyak kalkulasinya, terlalu banyak hitung-hitungannya, terlalu banyak pertimbangannya, hingga risikonya melupakan realisasinya, padahal dalam bisnis, yang penting itu bukan hitungan matematis, tapi agresi nyata,” urainya.

Ide Abi berbisnis kuliner berbahan dasar pisang, muncul dengan melihat kecenderungan masyarakat di Makassar yang menyebabkan pisang sebagai penganan khas dikala berkumpul bersama keluarga maupun teman. Penganan tradisional dari materi utama pisang juga hampir selalu ada pada setiap hajatan suku Bugis Makassar.

“Dari situ saya melihat peluang, kenapa tidak saya olah pisang ini lebih modern dengan menambahkan varian rasa yang bisa diterima semua kalangan, mulai bawah, menengah, atas, juga sanggup diterima segala usia, dari belum dewasa hingga dewasa,” ujarnya.

Saat bisnisnya mulai dikenal luas, Abi mulai kewalahan melayani pesanan. Hanya mengandalkan pengantaran manual, ia mengaku sangat kerepotan meladeni chatting-an pelanggan melalui media umum pribadinya.

Abi kemudian tetapkan untuk bergabung dengan GrabFood. Sejak dikala itu, semua layanan dirasanya sangat mudah. Mulai dari daftar menu, keterangan promo hingga harga, sudah lengkap di GrabFood. Lokasi gerai Piscok Super yang berada di kompleks kecil pun, bisa ditemukan dengan mudah oleh driver Grab.

“Sangat dimudahkan dengan hadirnya GrabFood ini. Tak repot lagi membalas satu per satu chat dari pelanggan. Secara tidak pribadi juga mengiklankan produk saya di fitur GrabFood juga, jadi lebih dikenal banyak orang. Dari situ juga saya selalu berinovasi biar pelanggan tak bosan untuk selalu memesan Piscok Super,” tuturnya.

Kini, omzetnya mulai meningkat hingga 50 persen dikala bergabung dengan GrabFood. Dia pun merasa pekerjaannya lebih efisien sebab tak lagi dipusingkan dengan urusan pengantaran produk ke pelanggan.

Berjalan kurang lebih dua tahun, sekarang Pisang Coklat Super milik Abi tercatat mempunyai 20 gerai, bahkan telah berekspansi hingga Ibu Kota Jakarta. Khusus di Makassar, Piscok Super bisa terjual hingga 3.000 porsi setiap hari.

“Piscok Super menjadi yang pertama memadukan cita rasa tradisional dengan modern melalui puluhan varian rasanya. Inilah yang menjadi ciri khas dari Piscok Super,” ungkap Abi yang lahir 22 Oktober 1997 ini.

Menurut Abi, keputusannya membuka gerai Piscok Super di Jakarta terbilang cukup nekat, namun tetap dengan pertimbangan yang terukur. Dia ingin pertanda bahwa merk kuliner lokal Makassar juga bisa masuk di ibu kota, tak hanya sebaliknya, merk ibu kota yang menjajal Makassar.

“Selama ini, yang banyak dijumpai itu, kita (di Makassar) yang diserbu merk dari Jakarta atau secara umum dari Jawa. Saya berani mendobrak pasar Jakarta sebab semua telah saya riset, penerimaan masyarakat di Jakarta sangat baik, bahkan hanya beberapa bulan, Piscok Super sudah buka hingga lima gerai,” ucap anak pasangan Syarif Arifin Siga dan Nirwanti Tajuddin ini.

Berada di puncak karir sebagai pebisnis, Abi tak pernah jumawa. Dia menganggap karyawannya bukan anak buah yang seenaknya bisa diperintah. Dia tak ingin disebut sebagai bos, tetapi pemimpin. Abi juga senantiasa memperlihatkan reward kepada karyawannya yang giat dalam bekerja.

“Saya lebih menempatkan diri sebagai pemimpin. Memerintah tidak secara pribadi tapi memperlihatkan referensi kepada karyawan. Dengan begitu, mereka akan loyal terhadap kita,” ucapnya.


Dalam kerjasamanya dengan Grab, Abi berharap diadakan gathering dengan seluruh kawan UMKM untuk saling memberi masukan dalam berbagi bisnis yang digeluti.

“Sesama pengusaha, baiknya bersinergi, niscaya ada banyak hal yang bisa dipelajari dari pengusaha-pengusaha yang tergabung sebagai kawan GrabFood. Dari situ, bisnis kita sama-sama akan berkembang,” imbuhnya.

Abi merupakan satu dari lima juta wirausahawan mikro yang tergabung dalam ekosistem Grab di Indonesia. Berdasarkan temuan riset, Tenggara Strategics dan CSIS mengestimasi bahwa Grab berkontribusi sebesar Rp 4,2 triliun ke perekonomian kota Makassar pada tahun 2018 melalui empat lini usahanya.

GrabCar merupakan kontributor terbesar yang memperlihatkan donasi Rp 1,92 triliun. Kontributor kedua ialah GrabBike dengan Rp 1,85 triliun. Selanjutnya ialah GrabFood dengan donasi sebesar Rp 379 miliar. Dan GrabKios (KUDO) melalui jaringan agennya membuat donasi ekonomi sebesar Rp 43 miliar.

Kamu mau sukses ibarat Abi? Jangan ragu untuk berani mengambil langkah untuk berbisnis.

Jual Piscok Lewat GrabFood, Omzet Usaha Pemuda Makassar Ini Naik 50%

Simak Video “Yuk Pesan Menu Eksklusif Lewat GrabFood Signature
[Gambas:Video 20detik]