Keindahan Ragam Kebaya Dari Aceh Hingga Papua Di Tangan Vera Kebaya

Komentar Menohok Karlie Kloss Soal Alasan Pembatalan Show Victorias Secret

Jakarta – Kebaya seakan telah menjadi identitas wanita Indonesia. Kebaya pun tak langsung untuk etnis tertentu. Keindahan ragam kebaya inilah yang diangkat Vera Anggraini di peragaan tunggal perdananya, “Merajut Nusantara”.

Peragaan yang berlangsung di Raffles Hotel, Jakarta, Rabu (15/8/2018), ini terasa Istimewa alasannya yaitu menjadi yang pertama bagi Vera sehabis 16 tahun berkarier sebagai desainer. Selama hampir dua dekade, wanita kelahiran Medan, Sumatera Utara, 25 Oktober 1974, ini bergelut dengan kebaya.

Seiring perjalanan kariernya, Vera telah melayani banyak sekali undangan kebaya dari klien yang tiba dari latar budaya berbeda. Pengalaman ini memperkaya wawasan Vera akan keluwesan kebaya untuk dimodifikasi tanpa meninggalkan kekhasan kawasan tersebut. “Saya mau kebaya itu luwes untuk segala kebudayaan,” ungkap Vera.

Keindahan Ragam Kebaya dari Aceh hingga Papua di Tangan Vera KebayaFoto: Mohammad Abduh/Wolipop

Di Merajut Nusantara, Vera mempersembahkan 40 kebaya modifikasi dari tanah Aceh hingga Papua. Semuanya hasil karya terbaru Vera. Tentu saja masih dengan garis desain kebaya Vera yang elegan, kaya akan detail, namun terkesan mudah dan tak menor sebagaimana disukai klien masa kini.

Peragaan terbagi menjadi tiga sekuens dengan iringan musik etnik bercampur jazz dari Djaduk Ferianto dan tim. Sebagai pembuka, tampil formasi penata rias tradisional dan perias profesional yang mendukung program ini sebagai bentuk apresiasi Vera terhadap bantuan mereka yang selama ini ikut mempercantik penampilan para pengantin.

Kebaya Papua di tangan Vera KebayaKebaya Papua di tangan Vera Kebaya. (Foto: Moh. Abduh/Wolipop)

Di sekuens pertama yang bertajuk ‘Khatulistiwa’, Vera seolah mengajak kita melancong ke destinasi bagus di Timur Indonesia dengan pilihan kebaya bernuansa Bali, Nusa Tenggara Timur, Toraja, bahkan Papua.

Penampilan model dan Puteri Indonesia Whulandary Herman sebagai pengantin Bali dalam balutan kebaya hitam keemasan dengan bawahan songket senada serta suntiang dramatis membuka sekuens ini.

Lalu hadir kebaya Papua hasil interpretasi Vera yang berupa atasan berpotongan gaun brokat siluet hour-glass dalam nuansa perak dengan kain tenun kemerahan sebagai bawahan. Aksesori pemanis di antaranya gelang kalung khas Papua yang bertumpuk-tumpuk serta ‘mahkota’ penuh bulu. Detail ronceng di sekitaran pundak ikut mempermanis kebaya ini.

Keindahan Ragam Kebaya dari Aceh hingga Papua di Tangan Vera KebayaFoto: Mohammad Abduh/Wolipop

Masuk ke sekuens kedua, ‘Jawa Dwipa’, koleksi didominasi oleh formasi kebaya Jawa yang idenya tiba dari siluet kebaya encim dan kutubaru. Sekuens diawali dengan prosesi seorang pengantin yang masuk bersama dua abdi dalem yang membawa dupa beraroma wangi.

Di sekuens ini, Vera yang karyanya pernah menjadi andalan Raisa dan Kahiyang Ayu di ijab kabul mereka banyak bermain dengan detail bunga tiga dimensi. Ada yang diaplikasikan di bahu, pinggang, serta belakang kebaya sehingga membuat kebaya rancangannya tak terasa monoton.

Di sekuens ketiga yang bertajuk ‘Swarnadipa’, imajinasi Vera semakin ‘liar’ lagi. Karena dalam membuat koleksi ini tidak ada tuntutan klien, Vera pun benar-benar bebas mengekspresikan kreativitasnya, terutama untuk pemilihan warna.

Keindahan Ragam Kebaya dari Aceh hingga Papua di Tangan Vera KebayaFoto: Mohammad Abduh/Wolipop

“Contohnya busana pengantin Mandailing yang besar lengan berkuasa dengan warna merahnya aku ganti dengan biru elektrik biar ada kesan kekinian tanpa meninggalkan pakem,” kata mantan tangan kanan desainer Adjie Notonegoro itu.

“Merajut Nusantara” sekali lagi mempertegas eksistensi Vera Anggraini sebagai desainer kebaya yang diidamkan para pengantin. Namun yang terpenting, karya Vera Kebaya ini sukses mengangkat betapa indahnya keragaman kebaya Nusantara kita.