Keunikan Produk Fashion Indonesia Yang Jadi Primadona Pasar Internasional

Apa Jadinya Jika Peragaan Busana Digelar di Hutan Kota Kediri?

Foto: Mohammad Abduh/WolipopFoto: Mohammad Abduh/Wolipop

Jakarta – Indonesia dengan warisan budayanya yang unik sanggup menjadi nilai jual tersendiri untuk pasar internasional, khususnya di bidang mode. Oleh alasannya yaitu itu, butuh upaya yang konsisten dan persisten dalam menarasikan keunikan tersebut semoga produk mode karya anak bangsa sanggup diterima di mancanegara.

Deputi Hubungan Antar Lembaga dan Wilayah Badan Ekonomi Kretif Endah W. Sulistianti mengatakan, produk mode Tanah Air cukup diminati di pasar internasional. Terbukti, dari 16 subsektor ekonomi kreatif (ekraf), produk fashion Indonesia memberi sumbangsih terbesar terhadap nilai ekspor ekraf pada 2015, dengan nilai 56 persen.

Koleksi Lekat yang berbahan tenun tradisional. Koleksi Lekat yang berbahan tenun tradisional. (Foto: Mohammad Abduh/Wolipop)


Menurut Endah, ekspor fashion Indonesia sanggup lebih maksimal lagi kalau produk yang ditawarkan sesuai dengan selera pasar internasional.

“Pasar internasional kan sangat kompetitif dan selektif. Khusus untuk pasar Amerika Serikat dan Eropa, mereka suka produk handwoven seperti tenun atau batik, serta yang ramah lingkungan,” kata Endah kepada Wolipop di daerah Senopati, Jakarta Selatan, Rabu (7/2/2018).

Kebetulan, lanjut Endah, banyak kain khas Indonesia yang terbuat dari pewarnaan alami. “Kalau kita konsisten dan persisten pada produk ini, semakin banyak orang luar yang tertarik. Keunikan menyerupai ini yang perlu dinarasikan alasannya yaitu tidak semua negara punya,” tambah Endah.

Modest wear rancangan Etu. Modest wear rancangan Etu. (Foto: Mohammad Abduh/Wolipop)


Bekraf menargetkan industri kreatif sanggup menyumbang Rp 1.000 triliun dari total pendapatan domestik bruto (PDB). Berdasarkan data terbaru Bekraf, PDB ekraf pada tahun 2016 sudah mencapai 922,58 triliun dengan nilai donasi terhadap PDB Nasional sebesar 7,44 persen.

Untuk PDB ekraf, fashion sendiri memperlihatkan donasi sebesar 18,5 persen dan menjadikannya sebagai penyumbang terbesar kedua sehabis kuliner. Dengan segala potensinya, sektor fashion pun dibutuhkan sanggup berkontribusi lebih demi mencapai sasaran tersebut.