Kisah Lulusan Itb Jual Batik Untuk Laki-Laki Kantoran, Raup Omzet Rp 150 Juta

Merayakan Sang Guru dan Maestro Batik di Koleksi Terbaru Iwan Tirta

Jakarta – Pada Hari Batik Nasional ini tahukah kau asal kata dari batik? Batik bantu-membantu berasal dari bahasa Jawa ambhatik, dari kata amba yang berarti lebar, luas, kain; dan titik yang berarti titik atau matik (kata kerja dalam bahasa Jawa berarti menciptakan titik) dan kemudian berubah menjadi istilah batik.

Batik berarti menghubungkan titik-titik menjadi gambar tertentu pada kain yang luas atau lebar. Ciri khas batik ialah cara penggambaran motif pada kain yang menggunakan proses pemalaman, yaitu menggoreskan malam (lilin) yang ditempatkan pada wadah yang berjulukan canting dan cap.

Batik yang dibentuk dengan cap ini menginspirasi seorang perjaka berjulukan Ergy Adhitama untuk berbisnis baju batik. Melalui label Bonolo, Ergy membuatkan baju batik cap khusus untuk laki-laki kantoran. Idenya sendiri tiba dari dirinya yang dulunya pekerja kantoran.

Kisah Lulusan ITB Jual Batik untuk Pria Kantoran, Raup Omzet Rp 150 JutaErgy Adhitama. Foto: Gresnia Arela/Wolipop


“Aku dulu kerja kantoran. Dulu daripada pakai kemeja yang dimasukin ke dalam celana, saya lebih bahagia pakai batik lengan pendek dikeluarin. Awalnya pinjam batik punya ayah, terus harus beli, nah pas beli awalnya nggak tahu beli di mana, yang manis itu kayak gimana, harganya berapa,” ucap Ergy dikala bertemu dengan Wolipop di Jakarta Selatan, Selasa (1/10/2019).

Pria 29 tahun itu kemudian tetapkan untuk mencoba menciptakan baju batik sendiri dan menjualnya. Dia hanya mengaku modal nekat dan uang yang tidak banyak yaitu Rp 7 juta.

Menggandeng pengarjin batik dari Pekalongan, Cirebon dan Garut, Ergy mulai memproduksi baju batik untuk laki-laki kantoran. Dia juga menyewa sebuah rumah di daerah Tebet sebagai workshop untuk satu penjahit dan 10 orang penggalan produksi.

Kisah Lulusan ITB Jual Batik untuk Pria Kantoran, Raup Omzet Rp 150 JutaErgy Adhitama. Foto: Gresnia Arela/Wolipop

Ergy mengungkapkan untuk motif batik Bonolo, beliau biasanya meminta pada pengrajin untuk membuatnya secara khusus. Ini yang menciptakan proses pembuatan materi batik itu menjadi lebih usang sebab prosesnya masih tradisional yaitu dengan dicap. Oleh sebab itu harga baju batiknya pun tak murah yaitu mulai dari Rp 300 ribu.

Ergy mengakui penjualan batik Bonolo di awal tak gampang dan eksklusif meraup untung. Dia awalnya memperlihatkan baju-bajunya kepada teman-temannya sendiri. Dia juga menjualnya secara online dengan modal foto.

“Awalnya maksa temen buat beli produkku, lama-lama dari lisan ke lisan ada market dan demandnya. Akirnya saya bikin web dan feed Instagram dibagusin,” terang lulusan Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB, jurusan Bisnis Manajemen itu.

Memiliki desain batik yang khas dan motif sederhana, Ergy mencoba menciptakan baju batik yang dapat disukai kalangan muda. Oleh sebab itu beliau menciptakan motif batik yang tidak terlalu tradisional.

Kisah Lulusan ITB Jual Batik untuk Pria Kantoran, Raup Omzet Rp 150 JutaFoto: Gresnia Arela/Wolipop

“Aku kombinasikan dan cari celahnya biar nggak terlalu tradisional, sehingga memudahkan pelanggan yang belum biasa pakai batik mengadopsi batik dari Bonolo,” katanya.

Perlahan tapi niscaya bisnis yang dimulainya semenjak 2016 itu mulai menghasilkan. Ergy pun mengungkapkan penjualan batiknya biasanya akan meningkat tajam pada momen-momen tertentu.

“Siklus retail biasanya final tahun dan Idulfitri pas THR Turun, nggak hanya baju muslim, baju batik juga penjualannya cukup signifikan,” ujar laki-laki yang terinspirasi dari bahasa Afrika untuk menamai label batiknya Bonolo itu.

Kini setiap bulannya Ergy dapat mendapat omzet mencapai Rp 150 juta. Dan dikala Lebaran, omzetnya pun bertambah.

“Kalau Idulfitri buying powernya dapat lebih tinggi omsetnya dapat mencapai Rp 200 juta,” kata Ergy yang juga menciptakan agenda khusus beli 3 gratis 1 untuk Hari Batik Nasional itu

Tentunya menyerupai bisnis pada umumnya, bisnis yang dijalani Ergy pun tak selalu berjalan mulus. Dibutuhkan kesabaran apalagi kalau modal awalnya tak terlalu besar.

“Modal Rp 7 juta, hanya untuk menjadi produk semua. Muter dari sana aja dan menunggu barangnya terjual,” ucapnya.

Meski tak selalu mulus, Ergy meyakini bisnis baju batik laki-laki kantoran ini menjanjikan. Selama pekerja kantoran nyaman menggunakan batik, menurutnya konsumennya akan selalu ada.

Ergy pun berharap semakin banyak masyarakat yang sadar untuk menggunakan batik dan tidak hanya di Hari Batik Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Oktober saja. Dia ingin mengubah stigma masyarakat yang menganggap batik itu ialah kuno alias jadul.

“Batik itu semakin banyak desainer yang mencoba menciptakan penemuan terhadap batik, ajaran orang yang semakin modern, saya harap semakin banyak orang yang sadar untuk menggunakan batik,” tutupnya.

Simak Video “Koleksi Batik Christine Hakim Mencapai Ratusan
[Gambas:Video 20detik]