Meski Punya Kualitas, Ini Lantaran Merek Amerika Tidak Abadi Di Ri

Foto: dok detikcomFoto: dok detikcom

Jakarta – Akhir Maret 2020, General Motors yang membawahi merek Chevrolet tetapkan tidak lagi menjual mobilnya di Indonesia. Pabrikan tersebut mengikuti jejak merek Amerika sebelumnya menyerupai Ford karena tidak bisa bersaing mengikuti pasar Indonesia.

Pengamat Otomotif yang juga Dosen ITB Yannes Martinus Pasaribu menyebut kualitas serta desain kendaraan beroda empat Amerika bekerjsama bisa berkompetisi di Indonesia. Namun ia menyoroti kualitas saja tidak cukup bersaing di pasar otomotif.

“Yang cenderung menjadi permasalahannya di pasar Indonesia yakni harganya yang tinggi,” tutur Yannes kepada detikcom, Rabu (30/10/2019).

Faktor positioning harga menjadi salah satu penentu. Namun di sisi lain, Yannes menyebut pabrikan Amerika kurang mengerti pasar Indonesia, di mana untuk model Low MPV serta LCGC jadi kendaraan beroda empat yang paling sering diburu.

Chevrolet sempat bermain di segmen MPV bahkan mulai memproduksi SPIN di tahun 2013, namun pada 2015 pabrik di tutup. Sementara untuk LCGC, Chevrolet hanya bisa gigit jari karena ia juga tidak memproduksinya, apalagi dituntut harus mempunyai Total Kandungan Lokal Dalam Negeri (TKDN) sebesar 80 persen.

“Varian modelnya (merek Amerika) untuk kendaraan ber-cc kecil kalah jumlah dibandingkan dengan produk Jepang, Korea, dan sekarang China,” kata Yannes.

Ia juga menyebut hengkangnya merek Amerika dari Indonesia karena tidak mencuri ilmu dari kompetitor. Pabrikan Jepang dan China ketika ini tak hanya sekadar menjual mobil, tetapi juga memproduksi komponen otomotif.

“Mahalnya harga kendaraan beroda empat Amerika disebabkan kurang seriusnya mereka membangun industri otomotif dan industri komponennya di Indonesia, sehingga sanggup comply dengan peraturan industri dan perdagangan di Indonesia,” kata Yannes.

Simak Video “Chevrolet Pamit dari Indonesia, Bagaimana Nasib Penggunanya?
[Gambas:Video 20detik]