Pesona Tenun Sumba Dalam Karya Terbaru Biyan Wanaatmadja

Wishnutama Makara Menparekraf, Ini Harapan Biyan Hingga Ivan Gunawan

Foto: Dok. Mohammad Abduh/WolipopFoto: Dok. Mohammad Abduh/Wolipop

Jakarta

Keindahan Indonesia selalu mengilhami Biyan Wanaatmadja dalam berkarya. Namun Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) menerima tempat yang Istimewa di hati sang desainer. Ia meluapkan cintanya itu dalam peragaan bertajuk ‘Humba Hammu’ di Dharmawangsa Hotel, Jakarta, Rabu (15/11/2017).

“Yang aku rasakan sekarang, aku lagi jatuh cinta sama Sumba,” ucap Biyan dikala jumpa pers jelang peragaan.

Humba Hammu dalam bahasa Sumba sanggup bermakna sebagai Sumba yang cantik. Sebenarnya sudah usang Biyan menganggumi kecantikan Sumba, terutama warisan budaya wastranya yang hadir dalam bentuk tenun ikat.

Tapi cintanya pada tenun Sumba gres sanggup ia ‘utarakan’ secara pribadi sehabis Bank Indonesia menggandengnya dalam kegiatan pengembangan perjuangan mikro, kecil, dan menengah bagi para perajin tenun di Sumba.

“Persiapannya 3,5 bulan, cukup cepat. Tapi yang namanya orang lagi jatuh cinta, niscaya semua dijabani,” ungkap alumnus London College of Fashion itu sambil tersenyum.

Pesona Tenun Sumba dalam Karya Terbaru Biyan WanaatmadjaFoto: Dok. Mohammad Abduh/Wolipop

Tidak tanggung-tanggung, Biyan yang tadinya hanya ingin menampilkan sekitar 40 set busana (look), malah menjadi 90 set busana perempuan dan laki-laki saking berhasratnya.

Bagi desainer yang telah berkarya semenjak tiga dekade lalu, tenun khas Sumba memperlihatkan daya tariknya tersendiri.

“Saya melihat, tidak ada satupun kain tenun sumba yang mempunyai dongeng yang sama. Setiap kain niscaya menceritakan sesuatu yang berbeda,” ungkap Biyan.

Pesona Tenun Sumba dalam Karya Terbaru Biyan WanaatmadjaFoto: Dok. Mohammad Abduh/Wolipop

Tenun khas Sumba dikenal dengan motif-motif fauna yang mengisahkan wacana leluhur mereka. Salah satunya motif gajah sebagai simbol kekuatan dan keistimewaan.

Craftsmanship dari para perajin di sumba juga tak sanggup ditampik oleh Biyan. Ia mengagumi bagaimana mereka mendedikasikan hidupnya untuk membuat tenun dengan tangan sendiri. Untuk satu helai kain saja, proses pembuatannya sanggup memakan waktu sampai setahun.

Pesona Tenun Sumba dalam Karya Terbaru Biyan WanaatmadjaFoto: Dok. Mohammad Abduh/Wolipop

Itu mengapa, kebanyakan kain yang diolah untuk koleksi ini merupakan karya-karya usang dari para perajin sebagai bentuk apresiasi Biyan. Sisanya, Biyan memakai kain tenun yang sudah dimodifikasi, baik dari segi motif maupun ketebalan kain. Sekitar 15 perajin dari lima tempat di Sumba dilibatkan untuk koleksi ini.

Dengan tangan hambar Biyan, tenun sumba disulap menjadi pilihan busana bersiluet gaun panjang, blus longgar, atau outerwear menyerupai coat. Sesekali material tenun juga hadir sebagai aksen yang dihadirkan dengan teknik patchwork.

Tenun sumba yang mempunyai abjad rustic atau lusuh nan eksotis terpadu ringan dengan material yang luks menyerupai silk lame, jacquard, ataupun katun.

Tidak ketinggalan detail beading, bordir, fringe, sulaman kerang, dan payet sebagaimana ciri khas Biyan yang semakin memberi sentuhan kemewahan pada koleksi ini.

“Tantangan terberatnya yakni how to make it beautiful dalam waktu yang sangat singkat, kemudian bagaimana kita sanggup menghargai tenun dengan penerjamahan yg tepat, membuatnya agak berbeda, sesuatu yang tidak berat, kemudian relevan dengan masa kini, ” jelas Biyan.

Pesona Tenun Sumba dalam Karya Terbaru Biyan WanaatmadjaFoto: Dok. Mohammad Abduh/Wolipop

Karena, lanjut dia, berbicara mengenai tenun, sebagai sebuah produk yang sudah dirawariskan ratusan tahun kemudian dan dibentuk dengan tangan, terkesan tradisional. “Tidak ada salahnya menjadi tradisional. Tapi aku ingin masa kemudian itu dibawa ke masa kini sekaligus masa mendatang,” tambah Biyan.

Pemilik label Biyan dan Studio 133 Biyan itu memang bukan desainer Indonesia pertama yang mengangkat tenun khas Sumba.

Namun ia berharap, Humba Hammu sanggup menjadi jembatan antara perajin di Sumba dan masyarakat luas, khususnya generasi muda, semoga membuka mata mereka betapa indahnya sebuah tempat berjulukan Sumba.