Putri Keraton Protes Film Yang Tampilkan Sultan Agung Pakai Batik Bendo Kecil

Video Viral Putri Keraton Yogyakarta Santai Naik Becak Bikin Netizen Kagum

Jakarta – Batik sudah diakui UNESCO sebagai Budaya Tak-Benda Warisan Manusia semenjak 2009. Bisa dibilang, batik merupakan kekayaan budaya Nusantara yang sudah cukup dikenal hampir seluruh lapisab masyarakat Indonesia.

Tapi rupanya belum banyak yang memahami makna dan sejarah dari batik itu sendiri. Sebuah produksi film Indonesia dikritik oleh salah satu putri Keraton Yogyakarta, alasannya ialah dianggap keliru menampilkan batik sebagai kostum yang dikenakan pemainnya.

GKR Bendara, anak dari Sri Sultan Hamengkubuwono X mengritik produksi film tersebut di akun Instagram miliknya. Ia menampilkan pecahan foto yang menunjukkan pemain drama Sultan Agung sedang mengenakan pakaian keraton dengan bawahan kain batik motif parang. Menurutnya, batik bendo tersebut tidak seharusnya digunakan seorang raja.

“Aduuuh duh duh… hancur hati ku… yg memerankan Sultan Agung kok ya pake bendo yg kecil dan warna nya biru pula 😭😭😭… padahal yg menciptakan Parang Barong ialah Ibu beliau,” tulis GKR Bendara pada caption foto.

Dia melanjutkan, “Malah yg memerankan Abdi dalem di belakangnya yg pake Parang lbh besar 😱😱😱😱.”

GKR Bendara pun menyarankan biar kru produksi film tersebut mencari tahu lebih banyak rujukan sejarah ihwal Keraton Yogyakarta. Salah satunya di akun Facebook KratonJogja.

“Baru ahad kemudian sy bicara ihwal Parang Barong di Pameran Taman Pintar. Sedih saya lihatnya… #hancurhatiku #kitapelestaribudaya,” tulis GKR Bendara lagi.

Parang merupakan motif batik yang disakralkan dan penggunaannya dilarang sembarangan di kalangan keraton. Batik motif bendo diciptakan dalam banyak sekali jenis dan ukuran.

Putri Keraton Protes Film yang Tampilkan Sultan Agung Pakai Batik Parang KecilFoto: Instagram


Parang Barong, ukurannya paling besar dan hanya boleh digunakan oleh seorang Raja. Sedangkan Permaisuri menggunakan motif bendo yang lebih kecil.

“Pengunaan Parang hanya boleh untuk kerabat Kraton. Yg ber ukuran 12 cm hanya diperuntukan Raja, yg ber ukuran 8 cm untuk Permaisuri dan yg lebih kecil lagi unt putri dan Pangeran,” terperinci GKR Bendara.

Seperti dikutip dari detiknews, motif bendo barong disebut sebagai induk dari motif bendo lainnya alasannya ialah kesakralannya. Ukuran motifnya yang besar menunjukkan kedudukan besar yang dimiliki raja.

Motif ini diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma yang merepresentasikan jiwanya sebagai raja. Motifnya yang digambarkan berkesinambungan secara diagonal melambangkan usaha yang tak pernah terputus.

Dalam pecahan adegan film tersebut terlihat juga tugas abdi dalem menggunakan kain batik motif parang. Padahal, abdi dalem tidak diperbolehkan menggunakan motif tersebut.

“Motif bendo hanya boleh digunakan raja, permaisuri, dan keluarganya,” ujar menantu Sri Sultan HB VIII BRAy Poeroeboyo.

Poeroeboyo menjelaskan, abdi dalem yang mengenakan motif tersebut akan eksklusif ditegur jikalau ketahuan. Meskipun tidak ada hukuman khusus untuk abdi dalem yang kedapatan menggunakan motif terlarang itu.

“Ya ditegur saja, kok karenanya menyamai raja,” kata Poeroeboyo.

GKR Bendara tidak menyebutkan judul film yang dimaksud. Namun sejumlah pengguna Instagram di postingan GKR Bendara menyebut kalau film tersebut merupakan garapan sutradara Hanung Bramantyo, yang mengangkat ihwal dongeng kehidupan Raja Mataram Islam, Sultan Agung.