Reinkarnasi Limbah Dan Ulos Antik Jadi Epilog Cantik Jfw 2020

Busana Muslim dengan Teknik Jahit Kuno Jepang di Jakarta Fashion Week 2020

Jakarta – Hari terakhir perhelatan Jakarta Fashion Week (JFW) 2020 di Senayan City tak mirip biasanya. Alih-alih menjelang final pekan, JFW tahun ini berakhir pada Senin (28/10/2019) yang juga bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Meski demikian, itu tak mengurangi antusiasme para fashionista untuk menghadiri hari terakhir JFW 2020.

Bukan disengaja, JFW 2020 seharusnya mulai pada 19 Oktober dan ditutup pada Jumat, 25 Oktober. Namun, jadwal dimundurkan untuk memberi kesempatan kepada masyarakat Indonesia merayakan inaugurasi presiden dan Wakil Presiden RI yang digelar pada 20 Oktober.

Senin di JFW edisi ke-12 ini menyerupai ‘Manic Monday’ di Wimbledon ketika hampir semua pemain tenis ternama dunia bermain pada Senin kedua dalam pekan Grand Slam tersebut. Para fans tenis sungguh menantikan agresi mereka.

JFW pun menyuguhkan formasi karya sejumlah desainer terbaik Indonesia. Puncaknya pada Senin malam di Dewi Fashion Knights (DFK) yang selalu menjadi pamungkas dari ajang terpenting di kalender mode Tanah Air tersebut.

Karya Auguste Soesastro membuka Dewi Fashion Knights di penutupan Jakarta Fashion Week 2020.Karya Auguste Soesastro membuka Dewi Fashion Knights di penutupan Jakarta Fashion Week 2020. (Foto: Rachman Haryanto/detikfoto)

Pertama kali digelar pada 2008, DFK yang merupakan hajatan dari majalah Dewi itu menyuguhkan kreasi para desainer yang ‘dikukuhkan’ sebagai kesatria mode Indonesia berkat prestasi dan dampak mereka bagi kemajuan industri ini. Sebastian Gunawan, Oscar Lawalata, Ghea Panggabean, Rinaldy A. Yunardi, Barli Asmara, Sapto Djojokartiko, Major Minor dan Toton ialah beberapa nama para kesatria di DFK terdahulu.

Tahun ini, ada empat desainer yang mendapat kehormatan tersebut. Mereka ialah Mel Ahyar, Auguste Soesastro, Jeffry Tan dan Adrian Gan. Jumlahnya memang tak sebanyak dulu.

Menurut Pemimpin Redaksi Dewi Margaretha Untoro atau Margie, DFK tahun ini ingin mempertegas kualitas dari para desainer yang terpilih.

“Kalau desainernya terlalu banyak, karya yang ditampilkan hanya sedikit. Dengan hanya menentukan empat desainer, mereka sanggup memamerkan karya yang lebih banyak. Selain itu, desainer jadi termotivasi untuk sanggup lebih mengeksplor kreativitasnya demi memperlihatkan kualitas,” ungkap Margie kepada Wolipop.

Adapun ‘Borderless’ menjadi tema DFK tahun ini sebagai refleksi dari perkembangan dunia digital dan kehadiran media umum yang meruntuhkan tembok-tembok pembatas. Tema tersebut, kata Margie, juga merepresentasikan konsep gender yang kini menjadi lebih fluid dan sudah tak sanggup lagi dikotak-kotakkan antara laki-laki dan wanita.

Foto: Rachman Haryanto/detikcom


Masing-masing desainer pun memaknai ‘Borderless’ dengan cara dan gayanya tersendiri. Auguste Soesastro membuka DFK tahun ini dengan 14 busananya yang bertajuk ‘Javanese Invasion’. Membawa label Kraton, Ia menginterpretasikan tema ‘Borderless’ dengan meleburkan elemen baju etika Jawa dengan tren active wears yang menggema terakhir ini.

Di tangan cuek Auguste, beberapa siluet yang terinspirasi dari baju-baju keraton mirip beskap dan surjan bermetamorfosis sebagai parka dan coat berpotongan minimalis yang kekinian khas sang desainer. Di ranah aksesori, desainer yang selalu mengedepankan jahitan yang berpresisi ini menghadirkan sebuah versi modern dari belangkon dalam gaya topi atlet berkuda dan turban.

Reinkarnasi Limbah dan Ulos Antik Makara Penutup Manis JFW 2020Foto: Rachman Haryanto/detikfoto

“Koleksi ini secara garis besar bercerita bagaimana memperlihatkan dampak elemen baju Jawa ke baju modern supaya budaya kita tidak hancur,” ungkap Auguste.

Adapun semua material untuk koleksi ini dipasok dari produsen yang berkualitas mirip Loro Piana dan Emernegildo Zegna, Taroni dan Gandini. Pilihan tersebut untuk memastikan busananya sanggup berusia panjang demi mengurangi limbah fashion.

Reinkarnasi Limbah dan Ulos Antik Makara Penutup Manis JFW 2020Foto: Rachman Haryanto/detikfoto


Konsep eco-fashion juga tercermin pada koleksi Mel Ahyar yang bertajuk ‘Skins’ di DFK tahun ini. Mel memanfaatkan sisa-sisa materi dari Byo, label suplemen besutan Tommy Ambiyo Tedji.

“Sebagian terbuat dari limbah yang saya minta dari Byo. Sisa fabrikasi patung yang terbuat mika juga saya ambil. Aku coba untuk no waste dan berguru lebih bertanggung jawab semoga koleksiku lebih sustainable,” kata Mel.

Reinkarnasi Limbah dan Ulos Antik Makara Penutup Manis JFW 2020Karya Mel Ahyar (Foto: Rachman Haryanto/detikcom)

Busana ramah lingkungan memang menjadi fokus di JFW 2020. Desainer lulusan ESMOD Paris ini ‘menghidupkan’ kembali limbah tersebut menjadi varian busana eklektik penuh detail khas Mel. Gaun, varia coat, atasan loose dan rok panjang asimetris menjadi tawaran Mel malam itu.

Karya Mel Ahyar. (Foto: Rachman Haryanto/detikcom)


Giliran Jeffry Tan yang memaknai ‘Borderless’ dengan menabrakkan unsur yang saling berseberangan. Ia mencontohkan, elemen yang fluid dipasangkan dengan sesuatu yang struktural, ada pula kombinasi geometris dan spiral. Perbedaan tersebut lantas membuat kekontrasan yang unik. Muncul blus feminin dengan lengan panjang ‘bergerigih’ yang terbuat dari adonan materi berbentuk potongan segitiga kecil.

Untuk koleksi ini, Jeffry Tan juga bermain dengan ‘cross-dressing. Di dikala model perempuan tampil maskulin dengan padanan kemeja dan celana panjang, model laki-laki muncul dalam balutan terusan panjang kuning. Atas nama fashion, semua bebas berekspresi terlepas dari gender apapun.

Rancangan Jeffry Tan. (Foto: Rachman Haryanto/detikcom)


Karya perancang senior Adrian Gan kemudian menutup DFK 2019 di JFW 2020 dengan kain-kain ulos antik yang menawan.

“Kain ulos yang saya pakai ini dari (kolektor dan perancang) Torang Sitorus. Kainnya sangat antik dan sangat rapuh,” kata Adrian Gan.

Reinkarnasi Limbah dan Ulos Antik Makara Penutup Manis JFW 2020Karya Adrian Gan (Foto: Rachman Haryanto/detikfoto)


Ia menghadirkan kain tersebut dengan teknik draperi sehingga tak merusaknya. Kain kuno tersebut seolah mirip lahir kembali dengan padanan busana ber-twist kekinian. Muncul pula oversized A-line dress hitam dengan pundak berbentuk kipas yang unik.

Reinkarnasi Limbah dan Ulos Antik Makara Penutup Manis JFW 2020Foto: Rachman Haryanto/detikfoto

“Saya biasanya membuat pakaian menurut kemauan klien. Untuk koleksi ini, saya mau sebebas-bebasnya berekspresi,” ujar sang desainer.

Reinkarnasi Limbah dan Ulos Antik Makara Penutup Manis JFW 2020Foto: Rachman Haryanto/detikfoto