Rugi Besar Terus, Uber Disebut Dapat Bangkrut

Kantor Uber. Foto: Maikel Jefriando/detikFinanceKantor Uber. Foto: Maikel Jefriando/detikFinance

JakartaUber sebaiknya segera memenuhi janjinya untuk meraih keuntungan. Jika tidak, aneka macam risiko dapat mengancam termasuk kebangkrutan.

Uber di kuartal III 2019 menderita kerugian USD 1,16 miliar sehabis di kuartal sebelumnya tekor USD 5,2 miliar. Tahun silam, penggagas transportasi online ini juga buntung USD 986 juta.

Kerugian itu menciptakan harga saham Uber turun 5,5%. Pesaing utama Uber di Amerika Serikat, Lyft, hingga ketika ini juga belum untung.


“Baik Uber dan Lyft pada ketika ini berada dalam tahap do or die, mereka harus mengambarkan kelayakan dari model bisnisnya atau terkena risiko kepunahan,” sebut Rohail Saleem, kolumnis di Wccftech yang dikutip detikINET.

Ia menyebut kedua pemain itu hingga ketika ini masih merugi untuk setiap layanan pengantaran yang mereka sediakan. Belum lagi jikalau terjadi perang harga.

Bos Uber sendiri telah berjanji akan meraih laba pada simpulan tahun 2021. “Kami tahu bahwa ada ekspektasi soal laba dan kami memperkirakan akan memenuhinya untuk tahun 2021,” sebut CEO Uber, Dara Khosrowshahi.

Salah satu upaya efisiensi yang dilakukan yaitu pengurangan karyawan. Pada kuartal silam, lebih dari 1.000 karyawan Uber kena PHK atau sekitar 2% dari seluruh pegawainya.

Simak Video “Mantap! Taksi Online Ini Dipasangi Kerangkeng untuk Cegah Begal
[Gambas:Video 20detik]