Seputar Keputusan Gojek Yang Ubah Masyarakat Indonesia

Group Head of Online Transport Services Gojek, Raditya Wibowo (Aditya Mardiastuti/detikcom)Group Head of Online Transport Services Gojek, Raditya Wibowo (Aditya Mardiastuti/detikcom)

Badung – Gojek menjadi startup sukses yang sekarang menjadi decacorn. Dalam NextICorn International Summit 2019 di Bali mereka bicara soal keputusan sulit yang kesudahannya mengubah masyarakat Indonesia.

Mulanya Group Head of Online Transport Services Gojek, Raditya Wibowo bercerita proses Gojek dari perjuangan kantoran di rumah dua lantai dan sekarang telah beroperasi di 207 kota di lima negara di Asia Tenggara. Dari tiga layanan di aplikasi sekarang menjadi bermacam-macam pilihan jasa yang ditawarkan.

“Masuk Gojek Juni 2015, 6 bulan sesudah aplikasinya launching. Dulu kantornya masih rumah lantai dua di Jl Ciasem. Call center di dalam, belum ada cabang, gres mulai malah cabang di Bali. Driver nongkrong di taman, pegawainya 150-200 orang,” kata Dito, sapaan karibnya, ketika ditemui di daerah Jimbaran, Badung, Bali, Sabtu (16/11/2019).

Dito menyampaikan awal Gojek mulai bangun masih serba manual. Saat itu customer yang membutuhkan jasa ojek masih harus memesan melalui telepon ke call center Gojek.

“Nah, Januari ada tiga servis itu. Ternyata semua orang pakai shopping kebanyakan pesen makanan. Makara mereka masukin warung kaki lima atau tempat sate yang mereka suka. Dari situ muncul ilham bikin Gofood, jadi kita bikin Gobox, Goclean sebelum Gocar, Gopay juga keluar di awal-awal itu,” sambungnya.

Seiring berjalannya waktu pihaknya terus menganalisa kebutuhan pelanggan. Hingga kesudahannya layanan di aplikasi Gojek pun bertambah banyak, sistem aplikasi pun diperbaharui untuk memudahkan pelanggan.

“2015-2018 kita tambah-tambah produk terus hingga tombolnya banyak. Tapi gotong royong prosedur kita yang cari driver deket ke customer itu mulai nggak berpengaruh melayani seruan ketika itu,” jelas Dito.

Di bulan Ramadan, terjadi penumpukan pemesanan kuliner sore hari jelang buka puasa. Gojek awalnya kewalahan, marketplace pun tidak berjalan semestinya, driver pilih-pilih orderan. Dari situ lahir sistem performa driver ojek online, dimana driver pun mengejar prestasi kerja.

“Makanya kita bikin juga sistem performa awalnya nggak terkenal di driver. Tapi kita percaya ujung-ujungnya memberi customer experience lebih manis dan ujung-ujungnya buat driver juga. Akhirnya mereka sanggup menyadari itu. Dulu hingga heboh di Jakarta, konvoi, dan nemenin Nadiem ke Polda,” kenangnya sambil tertawa.

“Jadi kita menciptakan keputusan sulit yang menurut prinsip pokoknya buat customer deh, kan nanti ujung-ujungnya bila sistemnya lebih manis buat driver juga. Si performa ini syarat untuk sanggup bonusnya, itu tujuannya biar customer menunggunya tidak lama,” papar Dito.

Tak cuma itu, Dito juga bercerita bagaimana pertimbangannya menciptakan harga ramai. Dia menyadari ketika ekspresi dominan hujan perlu perjuangan lebih bagi para driver untuk menjemput atau mendapatkan pesanan dari pelanggan dalam kondisi hujan. Harga lebih mahal dalam kondisi sulit, dirasakan adil bagi kedua pihak.

“Jadi poin 2015-2016 simpulan masa-masa sempat kebentur kayak atap di sistem kita. Ada yang menghambat untuk tambah terus. Akhirnya kita menjebol atap itu pelan-pelan, cobain-cobain,” ucap dia.

Seputar Keputusan Gojek yang Ubah Masyarakat Indonesia

Simak Video “Sejumlah Rumah di Bandung Rusak Diterjang Hujan Angin
[Gambas:Video 20detik]