Tenun Maumere Jadi Primadona Di Pertemuan Imf-Wb 2018 Bali

Apa Jadinya Jika Peragaan Busana Digelar di Hutan Kota Kediri?

Nusa Dua – Di tengah Pertemuan Tahunan International Monetary Fund (IMF) – World Bank (WB) 2018 yang tengah berlangsung di Nusa Dua, Bali, keindahan wastra Nusantara mencuri perhatian. Salah satunya kain tenun khas Maumere buatan perajin kawan binaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Warna-warni tenun Maumere dari Nusa Tenggara Timur (NTT) terbentang anggun di gerai Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) milik Rosvita yang berada di Indonesia Pavilion. Rosvita ialah satu dari 25 perajin yang menerima kesempatan untuk memamerkan karyanya kepada para tamu yang didominasi oleh para ekonom dan delegasi internasional itu.

Baca Juga: Sedang di Bali, Ini Gaya Bos IMF yang Cinta Kain Khas Indonesia

Tenun Maumere Makara Primadona di IMF-WB 2018 Bali Tamu menyaksikan Rosvita menenun di Indonesia Pavilion di pertemuan IMF-WB 2018, di Nusa Dua, Bali. (Foto: Dok. Image Dynamics)

Kain-kain yang Rosvita pamerkan cukup beragam, baik dalam warna maupun motif. Namun, sebagian besar didominasi oleh warna merah, biru, nila dan hitam yang dihasilkan dari proses pewarnaan alami.

Seperti wastra lainnya, banyak makna filosofis yang tersirat di lembaran kain khas Maumere. Motif Lian Lipa contohnya yang menyimbolkan kesuburan seorang perempuan. “Ini motif tradisional yang biasa digunakan oleh wanita di atas usia 50 tahun,” terang Rosvita ibarat tertulis dalam keterangan pers yang diterima Wolipop, Rabu (10/10/2018).

Bukan sekadar memamerkan, Rosvita dan kawan-kawannya juga mempraktikan cara pembuatan kain-kain tersebut di tempat. Para tamu pun terlihat antusias menyaksikan agresi para perajin menenun dengan mesin tradisional.

“Semua proses tenun ini pengerjaannya secara tradisional, begitu pula pewarnaannya yang memakai materi alami, ibarat berasal dari akar, daun, buah, batang kulit pohon dan lain-lain,” terperinci Rosvita. Satu kain tenun, sambung dia, idealnya memakan waktu sampai tiga bulan untuk pembuatannya dan dua bulan untuk pewarnaannya. Namun, waktu pengerjaan dan pewarnaan sanggup lebih cepat jika ukuran kain tidak terlalu besar.

Baca Juga: Cinta Kain Indonesia, Dokter Australia Koleksi Seribuan Tenun dan Batik

Tenun Maumere Makara Primadona di IMF-WB 2018 Bali Foto: Dok. Image Dynamics

Selain motif Lian Lipa, kain tenun bermotif dala mawarane dalam warna biru dan merah juga menjadi primadona. “Warna biru, nila atau indigo, dan merah yang pewarnanya dari akar mengkudu. Ini merupakan simbol keutuhan sebuah keluarga atau suku,” terperinci Rosvita yang piawai menenun semenjak remaja.

Pameran tersebut turut menampilkan produk-produk olahan dari tenun, ibarat dompet, tempat kartu, syal dan masih banyak lagi. Pameran tenun khas Maumere hadir di Indonesia Pavilion sampai hari ini saja, alasannya ialah akan berganti secara terpola dengan kain dari kawasan lainnya.

Rosvita berharap, ekspo tersebut sanggup semakin mengangkat eksistensi tenun dari NTT ke panggung dunia. Sebelumnya, Rosvita sudah pernah mendapatkan pesanan dari Jepang, Amerika Serikat, dan Jerman.

“Saya sangat gembira sanggup hadir di ajang ini, alasannya ialah ini merupakan kesempatan aku untuk memperkenalkan tenun kepada masyarakat mancanegara. Saya berharap, sehabis ekspo ini, produk-produk tenun dari NTT semakin go international,” ujarnya.